• Sabtu, 3 Desember 2022

Lemahnya Menjalankan Prokes Terkait Omicron Telah Mencemaskan Dunia Termasuk di Indonesia

- Sabtu, 12 Februari 2022 | 09:30 WIB

jabaribernews.com -Omicron, varian baru Covid 19,  memiliki beberapa mutasi yang mungkin berdampak pada perilakunya.

Misalnya saja, seberapa mudahnya menyebar atau tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkannya.

Melansir NDTV.com, setelah menandai jenis virus corona B.1.1.529, bernama Omicron, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada November 2021 lalu telah merilis temuan terbarunya di tengah meningkatnya kekhawatiran di seluruh dunia.

Baca Juga: Masyarakat Diimbau Perketat Prokes, Omicron di Jabar Semakin Banyak

Saat itu terdapat  5 temuan terbaru WHO terkait Omicron yang mencemaskan dunia:

  1. Menurut WHO, bukti awal menunjukkan mungkin ada peningkatan risiko infeksi ulang dengan omicron. Varian baru ini dapat menginfeksi ulang lebih mudah pada orang yang sebelumnya pernah terserang Covid-19.
  2. Belum jelas apakah omicron lebih menular (lebih mudah menyebar dari orang ke orang) dibandingkan delta dan varian lainnya. Untuk saat ini, tes RT-PCR dapat mendeteksi strain baru tersebut.
  3. Untuk memahami dampak potensial dari varian ini pada vaksin, maka WHO telah bekerja sama dengan mitra teknis
  4. Saat ini tidak ada informasi yang menunjukkan bahwa gejala yang terkait dengan Omicron berbeda dari varian lainnya. Sehingga belum jelas apakah infeksi omicron menyebabkan penyakit yang lebih parah.
  5. Data awal memperlihatkan peningkatan rawat inap di Afrika Selatan, tetapi ini mungkin karena meningkatnya jumlah keseluruhan orang yang terinfeksi, bukan akibat infeksi spesifik omicron.

Infeksi awal yang dilaporkan termasuk di antara studi oleh universitas adalah menyerang  individu yang lebih muda, yang cenderung memiliki gejala lebih ringan. Namun akan memakan waktu berhari-hari hingga beberapa minggu untuk memahami tingkat keparahan varian omicron

Baca Juga: Kendati Kasus Omicron Melewati Puncak Delta, Pasien di RS Masih Rendah

Varian baru Covid 19 baru dengan "jumlah mutasi yang sangat tinggi", diyakini sebagai jenis virus paling berevolusi dan dapat lolos dari vaksin yang ada. Sebelumnya, hal ini telah diperingatkan para ilmuwan.

Cabang dari varian lama yang disebut B.1.1, yakni varian B.1.1.529, seperti dilansir mirror.co.uk, telah ditemukan di Botswana. Varian tersebut memiliki 32 mutasi spike pada protein spike.

Halaman:

Editor: Nanang Supriatna

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Update Korban Gempa Bumi Cianjur

Rabu, 30 November 2022 | 17:29 WIB

Polri Siaga Pengamanan Menjelang KTT G20 di Bali

Jumat, 4 November 2022 | 12:21 WIB

Geger Penemuan Bayi di Toilet Pabrik PT SLI Majalengka

Selasa, 1 November 2022 | 15:36 WIB
X