• Kamis, 8 Desember 2022

Kendati Kasus Omicron Melewati Puncak Delta, Pasien di RS Masih Rendah

- Rabu, 9 Februari 2022 | 15:45 WIB
dr. Siti Nadia Tarmizi M.Epid., Juru Bicara ok COVID-19 Kemenkes.
dr. Siti Nadia Tarmizi M.Epid., Juru Bicara ok COVID-19 Kemenkes.
 
 
jabaribernews.com -Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan data konfirmasi kasus Omicron menunjukkan sudah melebihi puncak kasus Delta di beberapa daerah, seperti DKI Jakarta, Banten, dan Bali.
 
Kendati begitu, jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit belum menyamai puncak kasus Delta Juli-Agustus 2021 lalu. 
 
Per 6 Februari 2022, DKI Jakarta mengkonfirmasi 15.825 kasus baru, melebihi puncak kasus Dela yang mencapai 14.619 kasus.
 
 
Pasien COVID 19 yang dirawat di rumah sakit karena Omicron berjumlah 9.364, atau setengah dari 18.824 pasien yang dirawat di puncak kasus Delta 2021 lalu.
 
Begitu juga dengan Banten yang mencatat konfirmasi 4.885 kasus per 6 Februari 2022, lebih tinggi dari kasus Delta yaitu 3.994 kasus.
 
Namun, pasien yang dirawat di RS berjumlah 966 orang, jauh lebih rendah dibanding pasien yang dirawat di puncak gelombang Delta, yaitu 4.268 orang.
 
Masih di periode yang sama, kasus konfirmasi di Bali sebanyak 2.031, sedikit lebih tinggi dari puncak Delta yaitu 1.910 kasus.
 
 
Pasien yang dirawat sebanyak 948 orang, jauh lebih sedikit dari puncak Delta yaitu 2.263 kasus.
 
"Meski demikian pelayanan pasien rumah sakit harus tetap kondusif dan hanya untuk pasien sedang, berat, dan kritis,'' terang dr. Siti Nadia Tarmizi M.Epid., Juru Bicara ok COVID-19 Kemenkes.
 
Kebijakan Kemenkes memprioritaskan pasien bergejala sedang, berat, dan kritis serta yang memiliki komorbid saja yang dirawat di rumah sakit akan mampu mengurangi beban pelayanan kesehatan hingga 70%.
 
Hingga Minggu (6/2) tercatat 356 pasien meninggal, 42% memiliki komorbid. Lalu 44% dari korban meninggal adalah lansia dan sebagian besar korban (69%) belum divaksinasi lengkap.
 
 
''Melengkapi vaksinasi terutama bagi lansia dan yang memiliki komorbiditas sangat dianjurkan, karena akan mengurangi dampak terberat saat terinfeksi virus COVID 19," kata dr. Nadia.
 
Pasien tanpa gejala (OTG) dan gejala ringan yang tidak perlu masuk rumah sakit, bisa dirawat dengan melakukan isolasi mandiri dan konsultasi dengan dokter melalui layanan telemedisin yang terintegrasi dengan Kemenkes.
 
''Bekerjasama dengan penyedia layanan telemedisin, Kemenkes berkomitmen untuk memberikan layanan prima pada pasien isolasi mandiri di rumah dan menyiapkan obat gratis selama masa isolasi,'' terang dr. Nadia.
 
Selain itu bagi pasien OTG dan gejala ringan yang tidak memiliki ruangan untuk isolasi mandiri bisa melakukan isolasi terpusat di tempat yang sudah disediakan pemerintah seperti di RSDC Wisma Atlet, Rusun Nagrak, Ngawi, dan Pasar Rumput.
 
Pemerintah daerah lain di seluruh Indonesia juga telah mempersiapkan tempat isolasi terpusat di daerah masing-masing yang sebelumnya sudah pernah dipersiapkan menghadapi lonjakan kasus Delta 2021 lalu.***

Editor: Nanang Supriatna

Sumber: kemenkes.go.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Update Korban Gempa Bumi Cianjur

Rabu, 30 November 2022 | 17:29 WIB

Polri Siaga Pengamanan Menjelang KTT G20 di Bali

Jumat, 4 November 2022 | 12:21 WIB

Geger Penemuan Bayi di Toilet Pabrik PT SLI Majalengka

Selasa, 1 November 2022 | 15:36 WIB
X